Total Tayangan Halaman

Senin, 28 November 2011

Kromosom dan Kelainannya

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Kromosom berasal dari kata Chroma yang artinya warna dan soma yang artinya tubuh struktur kromosom berupa benang batang atau bengkok yang mengandung zat yang mudah menerima, mengikat, dan menyerap warna. Didalam kromosom terdapat benang –benang tipis yang disebut kromatin. Dalam kromosom juga terdapat gen. Gen merupakan unit pembawa informasi genetik. Jumlah kromosom yang dimiliki antara makhluk hidup satu dengan yang lain tidak sama. Sel tubuh (sel somatik) memiliki jumlah kromosom 2n, sedangkan sel kelamin (gonosom) memiliki separuh dari  jumlah kromosom sel somatik.


B.   Tujuan

Tujuan mempelajari kromosom adalah agar kita dapat mengetahui lebih dalam lagi tentang kromosom, bentuk-bentuk kromosom, kelainan kromosom, pasangan kromosom, dan ukuran kromosom.









BAB II
PEMBAHASAN
1.     Pengertian Kromosom
Kromosom adalah benang kromatin yang telah memenebal dan memendek. Panjang kromosom pada tiap-tiap makluk hidup berbeda – beda berkisar antara 0,2 – 20 mikron. Pada umumnya semakin sedikit jumlah kromosom pada suatu makluk hidup semakin panjang kromosomnya. Kromosom dapat dilihat selama pembelahahn sel menggunakan teknik pewarnaan khusus. Kromosom tersusun atas nukleoprotein, persenyawaan antara asam nukleat (asam organik yang banyak terdapat didalam inti sel) dan protein seperti histon dan protamin.dimana pembawa  keterangan genetik hanyalah asam nukleat saja yaitu  asam Deoksi Ribinukleat Aksit ( ADN) dan Asam Ribonukleat Aksid (ARN).
Kromosom terdiri dari beberapa bagian:
1.      sentromer, yaitu kepala kromosom, ketika sel membelah kromosom menggantung pada 
         serat gelendong melalui sentromer. Sentromer tidak mengandung kromonema dan gen.
2.      lengan, yaitu badan kromosom. Mengandung kromonema dan gen. Lengan memiliki 3
         daerah:
1.      Selaput, yaitu lapisan tipis yang menyelimuti badan kromosom
2.      Kandung/ matriks, mengisi seluruh lengan yang terdiri dari cairan bening.
3.      Kromonema, merupakan benang halus berpilin-pilin yang terendan dalam kandung. Di dalam kromonema terdapat kromomer.





Selain sentromer dan lengan, ada bagian-bagain kromosom yang lain:
1.      Lekukan kedua
Pada beberapa kromosom terdapat lekukan kedua yang berada di sepanjang lengan dan berhubungan nucleolus. Oleh karena itu disebut dengan NOR (Nucleolar Organizing Regions).
2.       Satelit
Satelit adalah bagian kromosom yang berbentuk bulatan dan terletak di ujung lengan kromatid. Satelit terbentuk karena adanya kontriksi sekunder di daerah tersebut. Tidak semua kromosom memiliki satelit.
3.       Telomer
Telomer merupakan istilah yang menunjukkan daerah terujung pada kromosom. Telomer berfungsi untuk menjaga stabilitas bagian terujung kromosom agar DNA di daerah tersebut tidak terurai. Karena pentingnya telomer, sel yang telomer kromosomnya mengalami kerusakan umumnya segera mati.

2. Ukuran dan bentuk kromosom
Panjang kromosom pada tiap-tiap makluk hidup berbeda – beda berkisar antara 0,2 – 20 mikron. Pada umum nya semakin dedikit jumlah kromoso pada suatu makluk hidup semakin panjang kromosomya.
Pada tiap kromosom selalu ada bagian kromosom yang menyempit tampak lebih terang dari yang lain dan membagi kromosom menjadi duo bagian, bagian itu disebut sentromir. Kromosom berdasar letak sentromir dapat dibagi menjadi beberapa bentuk diantaranya :
a)      Metasentris  jika sentromir terletak pada median 9 ditengah-tengah sentromir sehingga kromosom terbagi menjadi 2 bagian yang sama dan berbentuk seperti hurup V
b)      Supmetasentris jika sentromir terletak submedian ( kearah salah satu ujung kromosom) sehingga kromosom terbagi menjadi dua bagian lengan yang tidak sama panjangnya ,dan berbentuk seperti huruf J.
c)      Akrosentris.apabila sentromir terletak subterminal (didekat ujung   kromosom)sehinggga kromosom tidak membengkok melainkan lurus seperti batang satu lengan kromosom sangat panjang sedang lengan yang lain sangat pendek.
d)       Telosentris. Apabila sentromir terletak kromosom diujung kromosom,sehingga hanya memiliki satu lengan saja yang sangat panjang.
ada 2 tipe kromosom yaitu:
1.            Kromosom tubuh/ autosom
 Kromosom yang berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan bentuk tubuh
2.            Kromosom seks/ gonosom
 Kromosom yang menentukan jenis kelamin individu
3. Tipe kromosom
Dikenal ada dua tipe kromosom pada makluk hidup yaitu
a).autosom atau kromosom tubuh yaitu kromosom yang tidak ada
    hubungannya dengan penentuan jenis kelamin.
b).Seks kromosom ialah sepasang kromosom yang menentukan jenis kelamin.
Lalat buah ( drasophila melanogaster ) mengandung 8 kromosom terdiri dari 6 kromosom autosom 2 kromosom sek.pada manusia memiliki 46 kromosom terdiri dari 44 kromosom autosom dan 2 kromosom sek
4.Penyusun kromosom
Kromosom tersusun atas nukleoprotein,persenyawaan antara asam nukleat (asam organik yang banyak terdapat didalam inti sel) dan protein seperti histon dan protamin.dimana pembawa  keterangan genetik hanyalah asam nukleat saja yaitu  asam Deoksi Ribinukleat Aksit ( ADN) dan Asam Ribonukleat Aksid (ARN)
http://riandhita.files.wordpress.com/2010/10/image001.png?w=500&h=350
5.     Kelainan kromosom

Akibat mutasi:
1.     Mutasi kromosom tejadi karena peruhahan jumlah kromosom
mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan jumlah kromosom (ploid) meiibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut euploid, sedang yang hanva terjadi pada salah satu kromosom dari genorn disebu aneuploid.
a)     Euploid
eu = benar; ploid = unit. Makhluk hidup yang terjadi dari perkembangbiakan secara kawin , pada umumnya bersifat diploid, memiliki 2 perangkat kromosom atau 2 genom pada sel somatisnya (2n kromosom). Organisme yang kehilangan I set kromosomnya disebut monoploid. Organisme monoploid memiliki satu genom atau satu perangkat kromosom (n kromosom) dalam sel somatisnya.
sel kelamin (gamet), yaitu sel telur (ovum) dan spermatozoon, masing – masing memiliki satu perangkat kromosom. Satu genom (n kromosom) yang disebut haploid. sedang organisme yang memiliki lebih dari dua genom disebut poliploid, misalnya: triploid (3n kromosom): tetraploid (4n kromosom); heksaploid( 6n kromosom). Euploid menyebabkan  kelainan seluruh pasangan kromosom, nama kelainannya berakhiran ploidi.

b)     Aneuploid
(an = tidak; eu = benar; Ploid = Unit) Aneuploid menyebabkan kelainan pada pasangan kromosom. Nama penyakitnya berakhiran somi. Mutasi kromosom ini tidak melibatkan seluruh genom yang berubah,rnelainkan hanya terjadi pada salah satu kromosom dari genom. Disebut juga dengan istilah aneusomik.Macam-macam aneusomik antara lain sebagai berikut:
  • Monosomik (2n-1); yaitu mutasi karena kekurangan satu kromosom
  • Nullisomik (2n-2); yaitu mutasi karena kekurangan dua kromosom
  • Trisomik (2n + 1); yaitu mutasi karena kelebihan satu kromosom
  • Tetrasomik (2n * 2); yaitu mutasi karena kelebihan dua kromosom.
Contoh kelainan jumlah kromosom autosom
a.      Trisomi 13 atau Patau sindrom (47.XX/XY + 13)
Penderita mempunyai 45 kromosom autosom, sehingga di sebut trisomi. Trisomi dapat tejadi pada kromosom nomor 13, 14, 15. Ciri-ciri penderita kepala kecil, mata kecil, tuli, polidaktili, kelainan otak, jantung, ginjal, dan usus serta pertumbuhan mental terbelakang.
b.      Trisomi 18 atau Edward sindrom (47.XX/XY +18)
Penderita mengalami kelebihan kromosom autosom nomor 18. Cirri-cirinya adalah penderita memiliki kelainan pada alat tubuh telinga dan rahang bawah kedudukannya rendah, mulut kecil, mental terbelakang, tulang dada pendek.
c.      Trisomi 21 atau Down sindrom (4 XX/XY +21)
Penderita mengalami kelebihan satu autosom pada kromosom bernomor 21. Ciri-ciri penderita adalah bertubuh pendek ( 120 cm), kepala lebar dan pendek, bbir tebal, lidah besar dan menjulur, IQ rendah, dan umumya steril.Down sindrom dibedakan lagi , primer, sekunder, tersier.
2.      Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan struktur kromosom.
Mutasi karena perubahan struktur kromosom atau kerusakan bentuk kromosom disebut juga dengan istilah aberasi.
Macam-macam aberasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Delesi atau defisiensi adalah mutasi karena kekurangan segmen kromosom Macam-macam delesi antara lain:
    Delesi terminal; ialah delesi yang kehilangan ujung segmen kromosom. Delesi intertitial; ialah delesi yang kehilangan bagian tengah kromosom. Delesi cincin; ialah delesi yang kehilangan segmen kromosom sehingga berbentuk lingkaran seperti cincin. Delesi loop; ialah delesi cincin yang membentuk lengkungan pada kromosom lainnya. Hal ini terjadi pada waktu meiosis, sehingga memungkinkan adanya kromosom lain (homolognya) yang tetap normal.
  • Duplikasi adalah mutasi karena kelebihan segmen kromosom.
  • Translokasi.
    Translokasi ialah mutasi yang mengalami pertukaran segmen kromosom ke kromosom non homolog.
    Macam-macam translokasi antara lain:
    l. Translokasi homozigot (resiprok)
    Translokasi homo zigot ialah translokasi yang mengalami pertukaran segmen kedua kromosom homolog dengan segmen kedua kromosom non homolog.
    2. Translokasi heterozigot (non resiprok)
    Translokasi heterozigot ialah translokasi yang hanya mengalami pertukaran satu segmen kromosom ke satu segmen kromosom nonhomolog.
    3. Translokasi Robertson
    Translokasi Robertson ialah translokasi yang terjadi karena penggabungan dua kromosom akrosentrik menjadi satu kromosom metasentrik, maka disebut juga fusion (penggabungan)
  • Inversi
    Inversi ialah mutasi yang mengalami perubahan letak gen-gen, karena selama meiosis kromosom terpilin dan terjadi kiasma.
    Macam-macam inversi antara lain:
    1 . Inversi parasentrik; teriadi pada kromosom yang tidak bersentromer.
    2. lnversi perisentrik; terjadi pada kromosom yang bersentromer.

  • Isokromosom
    lsokromosom ialah mutasi kromosom yang terjadi pada waktu menduplikasikan diri, pembelahan sentromernya mengalami perubahan arah pembelahan sehingga terbentuklah dua kromosom yang masing – masing berlengan identik (sama).
    Dilihat dari pembelahan sentromer maka isokromosom disebut juga fision, jadi peristiwanya berlawanan dengan translokasi Robertson (fusion) yang mengalami penggabungan.
  • Katenasi
    Katenasi ialah mutasi kromosom yang terajadi pada dua kromosom non homolog yang pada waktu membelah menjadi empat kromosom, salinq bertemu ujung-ujungnya sehingga membentuk lingkaran














BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
            Dari uraian yang diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kromosom merupakan berupa benang batang atau bengkok yang mengandung zat yang mudah diterima, mengikat, dan menyerap warna. Didalam kromosom terdapat benang-benang tipis. Jumlah kromosom yang dimiliki makhluk hidup antara satu dengan yang lain tidak lah sama. Sel tubuh memiliki jumlah kromosom 2n, sedangkan sel kelamin memiliki separuh dari jumlah kromosom sel sumatik. Ukuran kromosom secara umum panjang kromosom berkisar 12-50 mikro dan diameternya antara 0,2-20 mikro. Bentuk kromosom bervariasi berdasarkan letak sentromernya kromosom dibedakan atas meta sentrik, sub sentrik, alero sentrik, dan telosentrik.


Saran
v  Diharapkan mahasiswa mengerti apa yang dimaksud dengan kromosom dan kelainannya.
v  Diharapkan dengan mempelajari materi ini mahasiswa/i bisa menjadi pembelajaran untuk melengkapi mata kuliah Biologi



Head to Toe


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pemeriksaan fisik (Head to Toe) adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya beberapa bagian saja yang dianggap perlu oleh dokter yang bersangkutan.
Pemeriksaan dalam keperawatan menggunakan pendekatan yang sama dengan pengkajian fisik kedokteran, yaitu dengan pendekatan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi . Pengkajian fisik kedokteran dilakukan untuk menegakkan diagnosis yang berupa kepastian tentang penyakit apa yang diderita klien . pengkajian fisik keperawatan pada prinsipnya dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang lebih difokuskan pada respon yang ditimbulkan akibat masalah kesehatan yang dialami. Pengkajian fisik keperawatan harus mencerminkan diagnosa fisik yang secara umum perawat dapat membuat perencanaan tindakan untuk mengatasinya. Untuk mendapatkan data yang akurat sebelum pemeriksaan fisik dilakukan pengkajian riwayat kesehatan, riwayat psikososial, sosek, dll. Hal ini memungkinkan pengkajian yang fokus dan tidak menimbulkan bias dalam mengambil kesimpulan terhadap masalah yang ditemukan.
Pemeriksaan fisik dalam keperawatan juga digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat keperawatan klien. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. Misalnya , klien mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak.

B.     TUJUAN
a.      Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik (Head To Toe) secara tepat dan benar.
b.      Tujuan Khusus
-          Diharapkan mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Inspeksi dengar benar.
-          Diharapkan mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Palpasi dengan benar.
-          Diharapkan mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Perkusi dengan benar.
-          Diharapkan mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan Auskultasi dengan benar.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN
Pemeriksaan fisik (Head to Toe) adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya beberapa bagian saja yang dianggap perlu oleh dokter yang bersangkutan. Secara umum pemeriksaan fisik dapat berupa pemeriksaan:
Ø  Pemeriksaan Kulit
Pemeriksaan kulit untuk menilai warna, adanya sianosis, ikterus, eczema, pucat, purpura, eritema, makula, papula, vesikula, pustule, ulkus, turgor kulit, kelembapan kulit, tesktur kulit, dan edema.
Ø  Pemeriksaan Kuku
Pemeriksaan kuku dilakukan dengan mengadakan inspeksi terhadap warna, bentuk, dan keadaan kuku. Adanya jari tabuh (clubbed fingers) dapat menunjukkan penyakit pernapasan kronis atau penyakit jantung. Bentuk kuku yang cekung atau cembung menunjukkan adanya cedera, defesiensi besi, atau infeksi.
Ø  Pemeriksaan Rambut
Pemeriksaan rambut dilakukan untuk menilai adanya warna, kelebatan, distribusi, dan karakteristik rambut lainnya. Dalam keadaan normal, rambut menutupi semua bagian tubuh kecuali telapak tangan kaki, dan permukaan labia sebelah dalam.
Ø  Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening
Pemeriksaan kelenjar getah bening dilakukan dengan cara palpasi pada daerah leher atau inguinal yang lain. Pembesaran dengan diameter lebih dri 10 mm menunjukkan adanya kemungkinan tidak normal atau indikasipenyakit tertentu.
Ø  Pemeriksaan Kepala dan Leher
Pemeriksaan kepala dan leher meliputi pemeriksaan kepala secara umum, pemeriksaan wajah, mata, telinga, hidung, mulut, faring, laring, dan leher.
Kepala
Pemeriksaan ini menilai lingkar kepala. Lingkar kepala yang lebih besar dari normal, disebut makrosefali, biasanya dapat ditemukan pada penyakit hidrocefalus. Sedangkan lingkar kepala yang kurang dari normal disebut mikrosefali.
Wajah
Pemeriksaan wajah menilai apakah wajah asimetris atau tidak. Wajah yang asimetris dapat disebabkan oleh adanya paralisis fasialis, serta dapat menilai adanya pembengkakan daerah wajah.
Mata
Pemeriksaan mata menilai adanya visus atau ketajaman penglihatan. Pemeriksaan visus ini dapat dilakukan dengan pemberian rangsangan cahaya (khusus pada umur neonatus). Pemeriksaan mata yang lain adalah menilai apakah palpebra simetris atau tidak. Kelainan yang muncul antara lain ptosis, yaitu palpebra tidak dapat terbuka. Lagoftalmos, yaitu kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga sebagian kornea tidak dilindungi oleh kelopak mata. Pseudo lagoftamos ditandai dengan kedua belah mata tidak tertutup sempurna. Dan hordeolum yang merupakan infeksi local pada palpebra.
Telinga
Pemeriksaan telinga dapat dilakukan mulai dari telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam.
Hidung
Pemeriksaan hidung bertujuan untuk menilai adanya kelainan bentuk hidung dan juga menentukan ada atau tidaknya epistaksis. Pemeriksaan yang dapat digunakan adalah pemeriksaan rhinoskopi anterior dan posterior.
Mulut
Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menilai ada tidaknya trismus, yaitu kesukaran membuka mulut. Halitosis, yaitu bau mulut tidak sedap karena kurang dijaga kebersihannya. Dan labioskisis, yaitu bibir yang tidak simetris.
Faring
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat adanya hyperemia, edema, abses retrofaringeal, peritonsilar, atau lainnya. Endema (tanda-tanda radang) faring umumnya ditandai dengan mukosa yang pucat dan sembab dan pada difteri dapat ditentukan dengan adanya bercak putih abu-abu yang sulit diangkat (pseudomembran).
Laring
Pemeriksaan laring sangat berhubungan dengan pemeriksaan pernapasan. Apabila ditemukan obstruksi pada laring, maka suara mengalami stridor yang disertai batuk dan serak. Pemeriksaan laring dilakukan dengan menggunakan alat laringoskop, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan cara dimasukkan kedalam secara perlahan-lahan sementara lidah ditarik keluar.
Leher
Pemeriksaan leher bertujuan untuk menilai adanya tekanan vena jugularis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengondisikan pasien dalam posisi telentang denga dada dan kepala diangkat setinggi 15-30 derajat. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan untuk menilai ada atau tidaknya massa dalam leher.

Ø  Pemeriksaa Dada
Pada pemeriksaan dada, yang perlu diketahui adalah garis atau batas di dada. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, atau auskultasi. Dalam pemeriksaan dada, yang perlu diperhatikan adalah bentuk dan besar dada, kesimetrisan, gerakan dada, adanya deformitas, penonjolan, pembengkakan, atau kelainan yang lain. Dada memiliki beberapa bentuk, diantaranya :
-          Funnel chest
-          Pigeon chest
-          Barrel chest
Pemeriksaan pada daerah dada yang lain meliputi pemeriksaan payudara, paru, dan jantung.
Payudara
Pemeriksaan payudara pada anak dilakukan untuk mengetahui perkembangan atau kelainan payudara sebelum anak mengalami masa pubertas, misalnya untuk melihat ada atau tidaknya ginekomastia patologis atau galaktore. Sedangkan pemeriksaan pada orang dewasa dilakukan untuk menilai ada atau tidaknya kanker payudara.
Paru
Pemeriksaan paru terdiri atas beberapa langkah, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada pemeriksaan paru terdapat dua macam suara napas yaitu Suara Napas Dasar dan Suara Napas Tambahan. Dimana Suara Napas Dasar merupakan suara napas biasa, yang meliputi suara napas vesikuler, bronchial, amforik, cog wheel breath sound, dan metamorphosing breath sound. Sedangkan suara napas tambahan adalah suara napas yang dapat didengar melalui bantuan auskultasi yang meliputi ronki basah/ronki kering, wheezing, suara krepitasi, dan bunyi gesekan pleura (pleural fiction rub).
Jantung
Pemeriksaan tahap jantung pertama dilakukan dengan cara inspeksi, dan palpasi. Kemudian perkusi dan auskultasi.
Ø  Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Pemeriksaan auskultasi harus dilakukan terlebih dahulu agar bising usus atau peristaltic usus yang akan didengarkan tidak dipengaruhi oleh stimulasi dari luar melalui palpasi atau perkusi. Organ-organ yang diperiksa dalam pemeriksaan abdomen, antara lain hati, ginjal, dan lambung.
Ø  Pemeriksaan Genitalia
Pemeriksaan genital berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki pemeriksaan dilakukan dengan cara memerhatikan ukuran, bentuk penis, testis, serta kelainan yang ada, seperti hipospadia, epispadia, fimosis, adanya radang pada testis, dan skrotum. Sedangkan pemeriksaan pada perempuan  dilakukan dengan cara memerhatikan adanya epispadia, dan adanya tanda-tanda seks sekunder.
Ø  Pemeriksaan Tulang Belakang dan Ekstremitas
Pemeriksaan tulang belakang dan ekstremitas dilakukan dengan cara inspeksi terhadap adanya kelainan tulang belakang seperti lordosis, kifosis, skoliosis, kelemahan, serta perasaan nyeri yang ada pada tulang belakang dengan cara mengobservasi pada posisi telentang, tengkurap, atau duduk.
Ø  Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis dilakukan sebagai berikut:
-     Inspeksi, yaitu mengamati adanya berbagai kelainan pada neurologis.
-     pemeriksaan refleks, diantaranya refleks superficial, refleks tendon, dan refleks patologis.
-     pemeriksaan tanda menigeal, antara lain kaku kuduk.
-     pemeriksaan kekuatan dan tonus otot, nilai kekuatan otot 0-5.
Pemeriksaan neurologis yang lain adalah pemeriksaan status kesadaran. Status kesadaran ini dilakukan dengan dua penilaian, yaitu penilaian kualitatif dan penilaian kuantitatif. Penilaian kualitatif antara lain:
-     Compos Mentis, kesadaran penuh (respon yang cukup)
-     Apatis, acuh tak acuh
-     Somnole, kesadaran yang lebih rendah (mengantuk, ingin tidur, dan tidak responsive)
-     Sopor, tidak memberikan respon ringan maupun sedang (sedikit respon)
-     Koma, tidak dapat bereaksi
-     Delirium, merupakan tingkat kesadran yang paling bawah.
Penilaian kuantitatif dapat diukur denga Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale-GCS), adapun penilaian sebagai berikut:
-     Membuka mata
-     Respons verbal
-     Respons motorik
Adapun jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Inspeksi
Langkah pertama pada pemeriksaan pasien adalah inspeksi, yaitu melihat dan mengevaluasi pasien secara visual dan merupakan metode tertua yang digunakan untuk mengkaji/menilai pasien.
Secara formal, pemeriksa menggunakan indera penglihatan berkonsentrasi untuk melihat pasien secara seksama, persisten dan tanpa terburu-buru, sejak detik pertama bertemu, dengan cara memperoleh riwayat pasien dan, terutama, sepanjang pemeriksaan fisik dilakukan. Inspeksi juga menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk mengetahui lebih lanjut, lebih jelas dan memvalidasi apa yang dilihat oleh mata dan dikaitkan dengan suara atau bau yang berasal dari pasien. Pemeriksa kemudian akan mengumpulkan dan menggolongkan informasi yang diterima oleh semua indera tersebut, baik disadari maupun tidak disadari, dan membentuk opini, subyektif dan obyektif, mengenai pasien, yang akan membantu dalam membuat keputusan diagnosis dan terapi.
2. Palpasi
Palpasi, yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan, adalah langkah kedua pada pemeriksaan pasien dan digunakan untuk menambah data yang telah diperoleh melalui inspeksi sebelumnya. Palpasi struktur individu,baik pada permukaan maupun dalam rongga tubuh, terutama pada abdomen, akan memberikan informasi mengenai posisi, ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas/gerakan komponen-komponen anatomi yang normal, dan apakah terdapat abnormalitas misalnya pembesaran organ atau adanya massa yang dapat teraba. Palpasi juga efektif untuk menilai menganai keadaan cairan pada ruang tubuh.
Gambar 4-1 menunjukkan area tangan yang digunakan untuk palpasi untuk
Gambar 41 Area tangan yang digunakan untuk palpasi.

Pada awal selalu digunakan palpasi ringan, dan kekuatan palpasi dapat ditingkatkan terus. Palpasi ringa bersifat superfisial, lembut dan berguna untuk menilai lesi pada permukaan atau dalam otot.

Palpasi medium untuk menilai lesi medieval pada peritoneum dan untuk massa, nyeri tekan, pulsasi (meraba denyut), dan nyeri pada kebanyakan struktur tubuh. Dilakukan dengan menekan permukaan telapak jari 1-2 cm ke dalam tubuh pasien, menggunakan gerakan sirkuler/memutar.
Palpasi dalam digunakan untuk menilai organ dalam rongga tubuh, dan dapat dilakukan dengan satu atau dua tangan (Gambar 4-2). Jika dilakukan dengan dua tangan, tangan yang di atas menekan tangan yang di bawah 2-4 cm ke bawah dengan gerakan sirkuler. Bagian yang nyeri atau tidak nyaman selalu dipalpasi terakhir. Kadang, diperlukan untuk membuat rasa tidak nyaman atau nyeri untuk dapat benar-benar menilai suatu gejala.
Gambar 4-2 Teknik palpasi (A) Ringan (B) Dalam


3. Perkusi
Perkusi, langkah ketiga pemeriksaan pasien adalah menepuk permukaan tubuh secara ringan dan tajam, untuk menentukan posisi, ukuran dan densitas struktur atau cairan atau udara di bawahnya. Menepuk permukaan akan menghasilkan gelombang suara yang berjalan sepanjang 5-7 cm (2-3 inci) di bawahnya.

Terdapat lima macam perkusi seperti yang tercantum di bawah ini:
Suara
Nada/pitch
Intensitas
Durasi
Kualitas
Lokasi
Datar


Tidak tajam (dull)



 Resonan/gaung
Hiper-resonan
Timpani


Tinggi


Medium



           Rendah
Sangat rendah
Tinggi
Lembut


Medium



               Keras
Sangat keras
Keras
Pendek


Moderat



 Moderat/panjang
Panjang
Panjang
Absolut
                 Tidak jelas (dulliness) Seperti suara pukulan/jatuh, pendek (muffled thud)


                 Kosong
Berdebam
              Seperti drum
Normal: sternum, paha Abnormal: paru-paru atelektatik; Normal: hati; organ-organ lain; kandung kencing penuh Abnormal: efusi pleura, asites Normal: paru-paru Abnormal: Emfisema paru-paru Normal: gelembung udara lambung Abnormal: abdomen distensi udara

Pitch (atau frekuensi) adalah jumlah vibrasi atau siklus per detik (cycles per second/cps).
Vibrasi cepat menghasilkan nada dengan pitch yang tinggi, sedangkan vibrasi lambat
menghasilkan nada pitch yang rendah.
Amplitudo (atau intensitas) menentukan kerasnya suara. Makin besar amplitude, makin
keras suara.
Durasi adalah panjangnya waktu di mana suara masih terdengar.
Kualitas (atau timbre, harmonis, atau overtone) adalah konsep subyektif yang digunakan

Ada dua metode perkusi, langsung (segera) dan tak langsung (diperantarai). Perkusi diperantarai (tak langsung) adalah metode yang menggunakan alat pleksimeter untuk menimbulkan perkusi. Dari sejarahnya, pleksimeter adalah palu karet kecil, dan digunakan untuk mengetuk plessimeter, suatu obyek padat kecil (biasanya terbuat dari gading), yang dipegang erat di depan permukaan tubuh. Ini merupakan metode yang disukai selama hampir 100 tahun, tetapi pemeriksa merasa repot untuk membawa peralatan ekstra ini, berkembang menjadi metode pilihan sekarang (Gambar 4-3).
Gambar 43 Perkusi jari tak langsung.

Perkusi langsung dan tak langsung juga dapat dilakukan dengan kepalan tangan (Gambar 4-4). Perkusi langsung kepalan tangan melibatkan kepalan dari tangan yang dominan yang kemudian mengetuk permukaan tubuh langsung. Perkusi langsung kepalan bermanfaat untuk toraks posterior, terutama jika perkusi jari tidak berhasil. Pada perkusi tak langsung dengan kepalan, plessimeter menjadi tangan yang pasif, diletakkan pada tubuh ketika pleksimeter (kepalan dari tangan yang dominan) mengetuk. Kedua metode prekusi bermanfaat untuk menilai,
misalnya, nyeri tekan costovertebral angle (CVA) ginjal.
Gambar 44. Perkusi kepalan tangan. (A) Perkusi tak langsung pada daerah costovertebral
(CVA). (B) Perkusi langsung pada CVA.



4. AUSKULTASI

Auskultasi adalah ketrampilan untuk mendengar suara tubuh pada paru-paru, jantung, pembuluh darah dan bagian dalam/viscera abdomen. Umumnya, auskultasi adalah teknik terakhir yang digunakan pada suatu pemeriksaan. Suara-suara penting yang terdengar saat auskultasi adalah suara gerakan udara dalam paru-paru, terbentuk oleh thorax dan viscera abdomen, dan oleh aliran darah yang melalui sistem kardiovaskular.
Auskultasi dilakukan dengan stetoskop (Gambar 4-5).











Gambar 45 Stetoskop.



C.    PERSIAPAN
Agar interaksi pasien berlangsung efisien dan lancar, penting bagi pemeriksa untuk bersiap-siap sebelum perjumpaan dengan pasien. Langkah-langkan penting pada persiapan ini meliputi hal-hal berikut:
.
Ø  MENJAMIN KEAMANAN PASIEN

Selama pemeriksaan fisik, lakukan langkah-langkah untuk menjamin keamanan pasien dan anda sendiri terhadap transmisi penyakit yang dapat menyebar melalui darah dan untuk mencegah komtaminasi-silang.
Lihat Kotak 4-1 untuk ulasan hal/langkah-langkah standard tersebut.

                    Tindakan Pencegahan Baku untuk pencegahan Infeksi
·         Cuci tangan dengan seksama sebelum memulai pemeriksaan dan setelah pemerikssaan selesai.
·         Jika terdapat luka teriris, abrasi atau lesi lainnya, pakailah sarung tangan untuk melindungi pasien.
·         Pakailah sarung tangan secara rutin jika terdapat kemungkinan kontak dengan cairan tubuh selama:
§  Pemeriksaan oral
§  Pemeriksaan lesi kulit
§  Mengumpulkan sample
§  Ketika kontak dengan permukaan atau peralatan yang terkontaminasi
·         Gantilah sarung tangan ketika berganti kerja atau prosedur.
§  Jika memakai sarung tangan, cucilah tangan segera setelah sarung tangan dilepas dari pasien ke pasien yang lain.
§  Pakai masker dan perlindungan mata/wajah dan baju lab untuk melindungi kulit, membrane mukosa dan pakaian.
§  Ikuti prosedur klinik atau lembaga untuk perawatan rutin
§  Beri label yang jelas semua wadah peralatan agar dapat berhati-hati dan waspada terhadap cairan tubuh.
Rekomendasi untk Pencegahan Alergi terhadap Latek
Ø  MENYIAPKAN ALAT
Alat-alat yang diperlukan untuk pemeriksaan fisik komprehensif yang dilakukan oleh seorang dokter umum dapat dilihat pada Gambar 4-6. Farmasis tidak perlu menggunakan seluruh alat tersebut; walaupun demikian akan bermanfaat untuk mengetahui dan mengenal alat-alat umum yang digunakan pada pemeriksaan fisik. Peralatan yang diperlukan untuk pemeriksaan fisik menyeluruh adalah:

• Pena cahaya atau senter digunakan untuk cek kulit dan respon pupil terhadap cahaya dan untuk sumber cahaya tangensial menerangi dada danabdomen dariri sisi samping.
• Penggaris atau meteran,lebih disukai jika menggunakan satuan centimeter, untuk mengukur ukuran mola atau abnormalitas kulit lainnya, abdomen, tinggi fundus dan keliling tangan.
• Sarung tangan dan masker atau kaca mata pelindung/goggles sesuai aturan Centers for Disease Control (CDC) untuk situasi tertentu.
• Otoskop dan oftalmoskop untuk memeriksa telinga dan mata (jika otoskop tidak dilengkapi dengan spekulum pendek, maka diperlukan spekulum nasal).
• Depresor lidah untuk menggerakkan atau menahan lidah pada saat memeriksa orofaring.
• Stetoskop (dengan bel dan diafragma) untuk auskultasi paru-paru, jantung dan saluran cerna.
• Palu reflex untuk menguji reflex tendon
• Beberapa benda untuk menguji saraf cranial (misalnya uang logam, peniti, kancing dll)

Peralatan tambahan yang diperlukan untuk menilai tanda-tanda vital (vital signs) antara lain:
• Thermometer untuk mengetahui temperature
• Sfigmomanometer untuk mengetahui tekanan darah
• Jam dengan jarum penunjuk detik atau jam digital untuk menghitung kecepatan detak jantung (nadi) dan pernafasan.
• Skala untuk mengukur berat badan

Hampir semua alat sudah tercantum pada daftar di atas. Karena anda harus siap melakukan pemeriksaan terfokus tanpa interupsi, anda harus menyiapkan peralatan dasar (misalnya sfigmomanometer dan stetoskop) tersedia dan mudah dijangkau di ruang praktek Pengaturan yang hati-hati dan konsisten sebelum memulai pemeriksaa akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan dan menjamin pemeriksaan selalu dilakukan dengan urutan yang sesuai.

Gambar 45 Peralatan yang digunakan selama pemeriksaan fisik:
1)      stetoskop, 2) sphygmomanometer; 3) palu reflex; 4) garpu untuk tuning; 5) garpu untuk tuning; 6) roda untuk pemeriksaan sensori; 7) kartu untuk memeriksa penglihatan; 8) peak flow meter; 9) thermometer membrane timpani; 10) thermometer merkuri; 11) thermometer elektronik; 12) alcohol pad; 13) bola kapas; 14) sarung tangan sekali pakai; 15), tape measure; 16) specimen cup; 17) otoskop; 18) button (benda tumpul untuk pemeriksaan sensori); 19), kunci (benda tajam untuk pemeriksaan sensori); 20) oftalmoskop; endpiece (dapat diganti dengan otoskop endpiece); 21) triceps skinfold caliper;22) 51onofilament; 23) pena cahaya; 24), depressor lidah.


Ø  MENYIAPKAN TEMPAT DAN KONDISI
Ruang pemeriksaan yang terpisah atau daerah dengan tirai pembatas harus disediakan untuk menjamin privacy dan kerahasiaan (confidentiality). Ruangan tersebut harus cukup hangat. Pencahayaan yang baik dan lingkungan yang tenang merupakan hal yang penting, walaupun kadang-kadang hal ini sulit diperoleh. Usaha untuk memperoleh efek pencahayaan yang optimal dari sinar matahari atau sumber cahaya artificial juga penting. Jika lampu berfluoresensi di atas kepala merupakan sumber cahaya yang tersedia, maka pencahayaan tangensial atau samping juga harus digunakan. Sinar fluoresens menghilangkan semua bayangan permukaan, hal yang memang baik jika anda bekerja di meja tulis, tapi akan menghalangi kemampuan anda memvisualisasi karakteristik permukaan tubuh. Dengan menggunakan sumber cahaya tangensial akan dapat diperoleh pandangan anatomi tubuh yang lebih baik misalnya untuk melihat adanya benjolan, pulsasi atau lesi kulit. Pena cahaya, lampu yang bisa ditekuk tangkainya, atau senter merupakan alat-alat yang paling sering digunakan untuk memvisualisasi tubuh.

D.    PROSEDUR TINDAKAN

Pemeriksaan keadaan umum

Key point :
• Diamati pada saat pertama kali
bertemu dengan pasien
• Yang perlu diamati : suku, jenis
kelamin, perkiraan umur, status gizi,
kondisi psikologis, cara berdiriberbaring
dan mobilitas, pakaian,
kebersihan, perkawinan, kesadaran,
keadaan sakit (berat, ringan, atau
tidak tampak sakit), status gizi
(gemuk, normal, kurus)


Ukur tinggi dan berat badan
Key point :                                                                                             
• Perubahan berat badan terakhir

                                                                                                        




Periksa tanda-tanda vital

Key point :
• Tekanan darah, frekuensi nadi,pernafasan dan suhu tubuh



Periksa keadaan kulit, rambut dan kuku
Key point :
• Inspeksi
Warna kulit, warna kuku, jumlah
rambut, lesi
• Palpasi
Suhu, kelembapan, Tekstur,
turgor, oedema

Periksa kepala
Key point :
• Inspeksi
Kesimetrisan muka, Rambut, kulit
kepala
• Palpasi
Kulit kepala, deformitas

Periksa mata
Key point :
• Inspeksi
Bentuk bola mata, konjungtiva,
sklera, kornea, pupil kanan kiri
• Palpasi
Tekanan bola mata

                                                                                                                                                           
Periksa telinga
Key point :                                                                                                     
• Inspeksi
Daun telinga, liang, membran timpani
• Palpasi
Nyeri tekan, uji ketajaman
Pendengaran


Periksa hidung
Key point :
• Inspeksi
Pengeluaran, mukosa,
• Palpasi
Septum, nyeri tekan pada sinus





Periksa keadaan mulut

Key point :
• Inspeksi
Bibir, mukosa, gusi, gigi, lidah,
faring, tonsil, kebersihan/bau mulut
• Palpasi
Pipi, palatum, lidah
• Perkusi Gigi







Periksa dan raba leher
Key point :
• Inspeksi
Bentuk leher, denyut karotis,
tekanan vena jugularis
• Palpasi
Kelenjar thyroid, kaku kuduk

Periksa dada dan paru-paru
Key point :
• Inspeksi
Bentuk dada, retraksi
• Perkusi
Temuan perkusi
• Auskultasi
Bunyi nafas

Periksa sistem kardiovaskuler
Key point :
• Auskultasi
Bunyi jantung, mur-mur
Periksa dan raba keadaan payudara

Key point :
• Inspeksi Ukuran, simetris, pengeluaran, warna papilla dan areola
• Palpasi
Nyeri tekan, massa


Periksa perut (abdomen)
Key point :
• Inspeksi
Bentuk, retraksi, simetris,
penonjolan, striae gravidarum, linea
nigra, linea alba
• Palpasi
Nyeri tekan, massa (hepar, lien,dll),
tinggi fundus uteri
• Perkusi
Temuan perkusi dan pola
• Auskultasi
Bising usus, bising arteri, bunyi
jantung janin
                                                                                                                                           


 Periksa genitalia
Key point :
• Inspeksi
Vulva-vagina (tanda chadwick),
servik
• Palpasi _ pemeriksaan rektovaginal
Uterus (ukuran, bentuk dan posisi),
adneksa. Tanda hegar, tanda
goodel, tanda piskacek


Periksa sistem vaskular perifer
Key point :
• Inspeksi
Warna kulit, oedema
• Palpasi
Denyut perifer, varises vena

Periksa sistem muskuloskeletal
Key point :